Raja Cendekiawan, Sultan Abdurrahman Dapat Hadiah Kereta dari Raja Raffles  · Jejak

logo

Raja Cendekiawan, Sultan Abdurrahman Dapat Hadiah Kereta dari Raja Raffles 

Selasa, 9 Juli 2019 - 20:08 WIB

3 bulan yang lalu

Jejak.co-Jika mengunjungi Museum Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur, maka akan ditemui sebuah kereta, peninggal para raja yang berkuasa di ujung timur Pulau Madura.

Kereta tersebut milik Sultan Pakunataningrat Abdurrahman (Sumenep, 1811-1854), sosok raja cendekiawan yang memimpin Kerajaan Sumenep pada periode kepemerintahan yang ke-32, putra dari Panembahan Sumolo. 

Kereta tersebut adalah hadiah dari Sir Thomas Stamford Bingley Raffles adalah seorang Gubernur-Letnan Hindia-Belanda yang ke-39 (1811 s/d 11 Maret 1816). Sebagaimana tertulis dalam laman wikipedia.com, Raffles merupakan warga negara Inggris yang berhasil mendirikan negara kota Singapura. Selain itu, Raffles dikenal sebagai yang menciptakan kerajaan terbesar di dunia. 

“Sultan Abddurrahman adalah satu-satunya Raja Sumenep yang dapat hadiah kereta dari Raja Inggris, zamannya Rafles. Karena beliau menerjemahkan dari Bahasa Sangsekerta ke dalam Bahasa Inggris,” ujar Mohammad Erfandi, sesepuh juru kunci (guide) di Museum Sumenep.

“Sultan Abdurrahman, selain sebagai pemimpin Sumenep, beliau adalah pencetak rekor menulis Alquran dalam waktu semalam. Beliau pula yang menemukan Asta Sayyid Yusuf di Talango. Mendapat gelar doktor kehormatan dari Raja Inggris, dan pernah bertapa di Gua Jeruk, Lenteng, Sumenep. Kuburannya ada di Asta Tinggi, Sumenep,” cerita Erfandi.

Sepintas, semua bahan kereta ini seperti terbuat dari kayu, termasuk rodanya. Namun, ternyata bukan. “Itu rodanya terbuat dari besi, bukan kayu. Hanya dalamnya yang kayu, tapi luarnya dilapisi oleh besi. Keistimewaan kereta ini langngo (baca: sangat enak ditunggangi). Lebih langngo dari Mobil Mercy,” ungkap Erfandi dengan nada hiperbolis saat ditemui oleh Jejak.co, Minggu (6/72019).

Erfandi menyatakan bahwa kereta ini hanya boleh ditunggangi oleh Raja. “Kereta itu hanya boleh ditunggangi oleh raja, Mas! Tidak boleh, dan tidak baik jika ditunggangi oleh selain raja. Cangkolang, Mas! Itu bukan mobil, kereta. Kendaraan khusus bagi Raja,” pesannya.

Kereta ini terakhir digunakan pada tahun 1995, yakni oleh Bupati Soekarno Marsa’id, dimana terakhir masa kepemimpinannya adalah pada tahun 2000. “Terakhir digunakan adalah oleh Pak Soekarno Marsa’id. Setelah itu, Sumenep kan dipimpin oleh Kiai, Kiai Ramdan Siradj. Jadi, setelah beliau, tidak ada yang berani menunggangi kereta ini,” terangnya mengakhiri.

“Tentang keterangan mengenai Sultan Abdurrahman dan sejarah kereta tersebut, bisa dilihat di website-nya Dinas Pariwisata Sumenep: www.wisatasumenep.com,” tambah jelas Rian menerangkan, asisten Mohammad Erfandi sebagai juru kunci di Museum Sumenep.(don/yon)


Baca Lainnya