Mengenal Masyarakat Badui, Eksklusif dan Tidak Memiliki Tempat Tinggal Permanen – Jejak

logo

Mengenal Masyarakat Badui, Eksklusif dan Tidak Memiliki Tempat Tinggal Permanen

Sabtu, 2 Oktober 2021 - 10:33 WIB

4 minggu yang lalu

Ilustrasi (Foto/Istimewa)

JEJAK.CO, Sumenep – Kehidupan bangsa Arab pra-Islam sampai lahirnya Islam pada masa Rasulullah SAW, bahasa dan kesustraan di kala itu menjadi ikon bagi orang Arab.

Mereka sangat mengistimewakan bahasa Arab, sehingga melahirkan karya-karya kesustraan yang membanggakan. Bukan hal yang sulit untuk menemukan karya kesustraan seperti prosa, puisi, pidato dengan sastra yang indah, bahkan di tempat-tempat keramaian seperti pasar sering ditemukan karya sastra bahasa Arab.

Dari saking istimewanya, masyarakat Arab menganggap sesuatu yang hina apabila salah dalam pengucapan dan penulisan dalam karya bahasa Arabnya. Budaya ini terjadi secara turun temurun hingga pada akhirnya kesempurnaan bahasa Arab semakin bernilai setelah Alquran hadir di tengah-tengah mereka.

Seiring dengan perkembangan zaman, Bahasa Arab kemudian mengalami perubahan, kecuali bahasa keseharian masyarakat Badui yang tetap istikamah menjaga keasliannya.

Seperti apa kehidupan masyarakat Badui sehingga mampu menjaga keaslian Bahasa Arab?

Pendudukan Jazirah arab terbagi menjadi dua, yakni penduduk kota dan penduduk Badui atau masyarakat Arab pedalaman. Wilayah kota menjadi kawasan kerajaan sementara suku Badui berada di wilayah pedesaan atau pedalaman.

Suku Badui ini hidup dengan cara berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain untuk kebutuhan hidup mereka. Mereka selalu berpindah mencari daerah hijau dan memiliki sumber mata air di sepanjang Jazirah Arab sebagai tempat hunian.

Menurut Faesal Salek dan kawa-kawan dalam buku Sejarah Lengkap Rasulullah, kondisi georafis Jazirah Arab terdiri dari dataran sahara yang sangat luas. Daerah yang yang bisa dijadikan ladang perkebunan dan bercocok tanam sangat sedikit dan berada di pedalaman seperti Syam dan Yaman.

Perbedaan masyarakat Badui dengan masyarakat kota yang paling dominan adalah masalah gaya hidup. Masyarakat perkotaan selalu memperhatikan masalah kesenangan dan kemewahan, sedangkan masyarakat pedalaman Arab atau Badui membatasi diri dari hiruk-pikuk perkotaan atau lebih individualis. Mereka hanya mencari kebutuhan dasar hidup dalam kesehariannya.

Dalam buku atau kitab at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, Muhammad Athiyah al-Abrasyi menggambarkan kehidupan masyarakat Badui. Kehidupan mereka sangat sederhana. Hanya menggunakan tempat tinggal seadanya, yakni menggunakan tenda yang bisa dibongkar pasang saat pindah ketempat lain. Biasanya mereka menjalani kehidupan dengan becocok tanam di daerah yang memiliki sumber mata air dan bertenak kambing dan unta. Saat daerah yang ditinggali sudah tidak produktif, mereka kembali berpindah ke tempat yang lebih produktif.

Kathur Suhardi dalam terjemahan buku Sirah Nabawiyah menjelaskan, hal yang sangat penting bagi masyarakat Arab pedalaman atau Badui adalah menjaga solidaritas di internal sukunya. Mereka sangat menjaga budaya kekerabatan dan kekeluargaan. Persatuan bagi suku Badui menjadi prioritas yang harus dijaga. Bagi masyarakat Badui, musibah yang paling dahsyat dan menyakitkan apabila putus keanggotaan dengan sukunya.

Tardisi dan budaya menjaga solidaritas itu mampu bertahan hingga turun temurun. Kehidupan mereka sangat eksklusif atau tertutup dengan perkembangan kehidupan masyarakat yang hidup di kota.

Itulah sebabnya masyarakat Badui mampu mempertahankan budaya yang diyakini terutama keaslian bahasa mereka. Kebudayaan masyarakat Badui tidak terjamah dengan perubahan yang ada di wilayah perkotaan.

Penulis : Redaksi


Baca Lainnya