Menelusuri Kuliner Tradisional Khas Sumenep, Ada Ubi Lumir dan Gulali Cinta – Jejak

logo

Menelusuri Kuliner Tradisional Khas Sumenep, Ada Ubi Lumir dan Gulali Cinta

Selasa, 8 Oktober 2019 - 19:04 WIB

5 tahun yang lalu

Hoyyimah (56) warga asal Manding saat mrenggoreng ubi lumir

JEJAK.CO-Festival kuliner HSN 2019 yang digelar NU pada hari Minggu kemarin lusa, (6/10), dihadiri oleh 99 perwakilan dari MWC NU per-kecamatan yang ada di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

99 delegasi tersebut hadir menyajikan beraneka ragam kuliner tradisional khas Sumenep, bertempat di area Taman Adipura yang menjadi ikon keasrian kota yang berlambang kuda terbang ini.

Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kabupaten Sumenep, Qudzi Aziz, yang bertanggungjawab sebagai pelaksana kegiatan, mengapresiasi suksesnya kegiatan yang sekaligus menjadi grand opening HSN 2019 tersebut.

“Alhamdulillah, di luar ekspektasi bahkan, di luar dugaan,” singkatnya.

“Target 99 peserta kuliner yang telah direncanakan sebelumnya, datang semua. Alhamdulillah, Mas,” imbuhnya penuh syukur.

Segala macam makanan, camilan, dan minuman khas Sumenep tempo dulu sampai yang kekinian lengkap tersaji di dalamnya. Makanan antara lain, soto, kaldu, cake. Sedangkan makanan ringan tradisional seperti, lopès, kathèmel, los-èlos, kettho’, ès-paès, dan lainnya.

Berbagai macam makanan ringan tradisional khas Sumenep tersebut berjejer di ruas jalan sebelah selatan Taman Adipura, biasa dikenal Taman Bunga.

Noviyanti (25), salah satu perwakilan dari MWC NU Kecamatan Manding, merasa sangat antusias mengikuti gelaran festival kuliner tradisional yang diadakan oleh PCNU Kabupaten Sumenep ini. Ia mengaku sudah siap di lokasi sejak pagi pukul 05.30 WIB dengan semua perlengkapan masak yang dibutuhkan.

“Sudah tadi, Mas. Pukul setengah enam kita sudah siap di sini,” katanya.

Di Festival ini ia bersama suami dan ibunya menjual jenis makanan ringan yang rata-rata diolah dari ubi. Di antaranya ubi cilembu, atau lebih dikenal dengan ubi madu.

“Soalnya, kalau pas dioven itu keluar madu. Madu alami dari ubinya,” ujarnya. 

Selanjutnya, ada ubi lumir. Ubi rebus, dibentuk bulat, dan dalamnya diisi dengan aneka macam rasa, seperti coklat, strawberry, vanila. Tidak selesai di situ, setelah dibentuk bulat dan diisi aneka rasa, bagian luar masih ditaburi tepung ketan untuk kemudian digoreng sampai berwarna ungu kecoklatan.

Dilihat dari bentuknya yang menggemaskan, tak ayal jika ubi lumir ini menjadi makanan ringan paling laris dari sekian dagangannya yang lain.

“Dijualnya perbiji, 2 ribu rupiah saja, Mas” tawarnya kepada pengunjung yang lewat.

Ia mengaku dapat ide makanan ringan ini dari hasil belajar, buka-buka google, coba-coba menerapkan apa yang dibacanya dengan cara mengeksperimen beberapa makanan ringan tradiaional menjadi kekinian.

Delegasi dari MWC NU Gapura, Shalihah bersama Fathol Bari di stand Festival Kuliner HSN 2019


“Ya, sambilalu membaca peluang pasar yang memungkinkan, agar hasilnya laris di pasaran,” terangnya.

“Coba-coba. Cari pasar, lah. Cari apa yang lagi booming,” imbuhnya.

Beda daerah beda rasa. Salah satu peserta kuliner delegasi dari MWC NU Gapura, Shalihah, hadir dengan makanan khas tradisional yang, beberapa di antaranya, diberi nama cukup menggelitik.

Gulali Cinta

Makanan ini merupakan camilan ringan, rasanya manis, karena terbuat dari gula yang diolah lagi dengan parutan buah kelapa.

“Ini semua tanpa pengawet, Mas. Sudah sejak nenek moyang, turun-temurun,” terang Shalihah sambil menunjukkan beberapa dagangannya.

Bahan utama adalah legen (lahang), dimasak lagi sampai jadi gula merah. Akan tetapi, sebelum masak, lahang yang masih berupa air kental tersebut dibubuhi gula pasir terlebih dahulu.

“Kalau sudah masak, diimbuhi gula dan dicetak. Bentuknya seperti bunga-bunga cinta, makanya dikasi nama gulali cinta,” terangnya. 

Alat cetak yang digunakan untuk membuat camilan ini memakai cetakan khusus, tergantung model yang diinginkan. Harga satu bungkus ‘gulali cinta’ ini dihargai 12 ribu rupiah. 

Tupa Sera

Tak kalah menarik, camilan lain yang diusungnya sebagai benar-benar kuliner tradisional khas Sumenep yang belum banyak diketahui publik adalah ‘Tupa Sera’.

Dijelaskan, Tupa Sera adalah makanan khas Sumenep yang benar-benar memakai konsep tradisional dan dengan bahan yang alami.

Walaupun sama-sama terbuat dari lahang, pembuatan makanan yang satu ini cukup menarik dan menggelitik. Kalau pembuatan ‘gulali cinta’ dibentuk memakai cetakan, pencetakan ‘tupa sera’ ini memakai sapu lidi.

Proses pembuatannya membutuhkan waktu antara 2 sampai 3 hari. Pasalnya, gula (merah) yang dijadikan untuk membuat ‘tupa sera’ ini mesti diadon dengan tepung ketan selama berjam-jam, sama seperti pembuatan dodol atau bâjhik.

Setelah matang, baru kemudian diadon, dimasukkan ke dalam sapu lidi, lalu dipilin atau dipulas sampai menghasilkan bentuk yang diinginkan.

Tidak cukup sampai di situ, setelah dipilin dengan menggunakan sisi dalam sapu lidi, adonan itu masih harus dijemur selama kurang lebih setengah atau sampai satu hari.

“Tergantung keringnya, Mas. Bisa setengah hari, atau kadang satu sampai dua hari,” katanya.

Masa Kadaluarsa

Tupa Sera dan Gulali Cinta ini tergolong camilan yang alami, tidak memakai bahan pengawet, tapi masa kadaluarsanya bisa dibilang cukup lama.

“Tupa sera ini jajanan awet, Mas. Bisa bertahan 25 sampai 35 hari,” katanya.

“Kalau gulali cinta,” imbuhnya, “sesuai dengan namanya, gulali cinta, awet dan setia ini,” pungkasnya.

Penulis : Mazdon
Editor    : Ahmad Ainol Horri


Baca Lainnya