JEJAK.CO, Yogyakarta – Tidak semua anggota dewan memiliki kesempatan—atau keberanian—untuk kembali ke ruang akademik sebagai pengajar. Di tengah anggapan bahwa politisi kerap jauh dari dunia ilmiah, langkah Darul Hasyim Fath justru menghadirkan cerita yang berbeda.
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sumenep itu dipercaya menjadi dosen tamu di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Selasa (28/4/2026). Di hadapan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), ia membawakan kuliah bertema pemerintahan—bidang yang setiap hari ia geluti, bukan sekadar dipelajari.
Bagi mahasiswa, kehadiran seorang legislator di ruang kelas bukan hanya soal tambahan wawasan, tetapi juga pengalaman yang jarang ditemui. Materi tentang sistem pemerintahan yang biasanya dibahas lewat teori dan buku teks, kali ini hadir melalui pengalaman langsung dari pelaku kebijakan.
Darul mengurai bagaimana proses politik berjalan di balik layar—dari perumusan kebijakan, tarik-menarik kepentingan, hingga keputusan yang akhirnya diambil. Ia menekankan bahwa praktik pemerintahan sering kali tidak sesederhana konsep ideal yang diajarkan di kampus.
“Di ruang dewan, banyak hal tidak berjalan hitam-putih. Ada dinamika, kompromi, dan tanggung jawab besar yang menyertainya,” ungkapnya.
Namun, berdiri di depan kelas justru menghadirkan tantangan tersendiri bagi Darul. Ia mengaku, sebagai seorang politisi, dirinya tidak lepas dari kekeliruan dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ia dituntut untuk tetap bersikap kritis dan ideal ketika berbicara di hadapan mahasiswa.
“Ini yang menjadi tantangan. Sebagai politisi, pasti ada hilaf dalam kebijakan. Tapi di depan mahasiswa, kita juga harus tetap menjaga idealisme dan berpikir kritis,” katanya.
Pengakuan tersebut justru menjadi titik refleksi yang menarik. Di satu sisi, dunia politik menuntut kompromi dan realitas lapangan. Di sisi lain, dunia akademik menjunjung tinggi idealisme dan nalar kritis. Pertemuan keduanya menciptakan ruang dialog yang jujur dan terbuka.
Fenomena legislator yang terlibat aktif di dunia akademik memang belum banyak terjadi, terutama di daerah. Padahal, pengalaman praktis yang dibawa ke ruang kuliah dapat memperkaya perspektif mahasiswa, sekaligus menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.
Bagi politisi PDI Perjuangan ini, kuliah tamu ini bukan sekadar berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi ruang evaluasi diri. Ia dituntut menjelaskan kembali konsep pemerintahan dengan lebih jernih, sekaligus menghadapi pertanyaan kritis dari mahasiswa yang melihat persoalan dari sudut pandang ideal.
Sementara bagi mahasiswa, pertemuan ini membuka cakrawala baru. Mereka tidak hanya belajar tentang bagaimana sistem bekerja secara normatif, tetapi juga memahami kompleksitas di balik setiap kebijakan publik.
Langkah kecil ini menunjukkan bahwa politik dan akademik tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Ketika keduanya saling bersinggungan, ada peluang lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga peka terhadap realitas.
Di tengah tantangan tata kelola pemerintahan yang semakin kompleks, ruang-ruang dialog seperti ini menjadi penting—bukan hanya untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa kebijakan publik selalu berada di antara idealisme dan kenyataan. (har)











