Pemuda Sumenep Tuntut Ketua Umum PPP Mundur dan Minta Maaf – Jejak

logo

Pemuda Sumenep Tuntut Ketua Umum PPP Mundur dan Minta Maaf

Jumat, 2 September 2022 - 15:51 WIB

2 tahun yang lalu

Mahasiswa dari Aliansi Pemuda Peduli Kiai saat menggelar demonstrasi di Taman Adipura Kabupaten Sumenep, menuntut Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa minta maaf dan mundur dari jabatannya (Foto/Thofu) 

JEJAK.CO, Sumenep- Pernyataan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa yang menyinggung ‘amplop’ kiai terus menuai banyak kecaman, di antaranya dari masyarakat Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Suharso Monoarfa jadi sorotan karena pernyataannya dinilai merendahkan kiai. Suharso menyinggung kiai pada saat acara pembekalan antikorupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 15 Agustus 2022.

Sejumlah pemuda di Kabupaten Sumenep yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda Peduli Kiai, mengecam pernyataan tersebut, dengan melakukan aksi demontrasi di Taman Adipura Kabupaten Sumenep, Jum’at (2/9/2022)

Massa aksi menuntut Suharso Monoarfa untuk meminta maaf secara terbuka atas pernyataan yang telah dilakukan. Kemudian mereka juga mendesak Suharso Monoarfa mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PPP karena dinilai telah mencederai nama baik kiai.

Koordinator lapangan aksi, Muhammad Nur mengatakan, dua tuntutan itu akan disampaikan ke Kantor DPC PPP Kabupaten Sumenep, untuk disampaikan ke DPP PPP.

Muhammad Nur menilai, sebagai tokoh dan pejabat publik seharusnya Suharso berhati-hati dan menjaga ucapannya di ruang publik.

“Pernyataan Ketua Umum PPP adalah bentuk edukasi yang tidak benar dan tidak baik untuk dikonsumsi publik,” katanya sesaat setelah aksi.

Pernyataan Suharso yang saat ini menjabat Menteri Bappenas itu dinilai sebagai upaya menggiring opini negatif terhadap kiai. Hal itu sangat menyinggung perasaan publik utamanya masyarakat pesantren yang selama ini menjadikan kiai sebagai tokoh agama yang memiliki moralitas tinggi dan sangat dihormati.

Sebagai panutan publik sudah barang tentu kiai sangat menjaga tindakan dan perilakunya sehari-hari, agar tidak menabrak nilai-nilai moralitas.

Nur juga menyinggung peran dan kontribusi besar kiai dalam sejarah kemerdekaan Indonesia dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai pejabat publik, Suharso seharusnya belajar menghargai jasa para kiai.

“Karena pada hakikatnya, kiai adalah sosok yang dijadikan panutan masyarakat dan menjadi tiang agama malah dituduh dan digiring opini untuk bersalaman dengan kiai harus salam tempel,” ujarnya. (thofu/rei)


Baca Lainnya