Eksistensi Karya Sastra di Negara +62 – Jejak


logo

Eksistensi Karya Sastra di Negara +62
Oleh : Habibullah*

Selasa, 14 Januari 2020 - 16:10 WIB

1 bulan yang lalu

Ilustrasi (Foto/ist)

“Berkarya memang tidak mudah tapi dengan karya kita juga bisa melukiskan sejarah” mungkin kalimat itu yang tepat sebagai pemantik dari eksistensi karya sastra di negara +62. Karya sastra merupakan hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan baik dalam kampus, sekolah, atau bahkan di tempat nongkrong dan lainnya. Karena pada dasarnya karya sastra merupakan bagian dari masyarakat, yang turut serta mendidik masyarakat dengan nilai-nilai luhur yang terdapat di dalamnya.

Berbicara masalah karya sastra tentunya kita sebagai masyarakat milenial sudah tak asing lagi dengan hal tersebut. Karya yang di dalamnya terdapat banyak hal baik sosial, politik, religi, dan bahkan budaya. Lantas bagaiman keberadaan karya sastra di negara +62 ?.

Seiring berjalannya waktu keberadaan karya sastra bukan hal yang menjadi sorotan lagi khususnya dalam dunia akademisi. Bahkan sebagian dari kita memandang karya sastra dengan sebelah mata. Dengan landasan pemikiran bahwa karya sastra sudah tidak relevan lagi dengan kondisi dan tantangan zaman hari ini. Pandangan semacam ini dapat kita maklumi, jika pemikiran itu dilontarkan oleh masyarakat awam yang notabene berada di desa, karena keterbatasan media atau bahkan biaya operasional untuk internet yang terlalu mahal bisa menjadi salah satu faktor pendangan itu di maklumi.

Keberadaan karya sastra yang semakin hari semakin mengkhawatirkan khususnya dalam dunia akademisi, tidak boleh kita pandang sebelah mata atau bahkan dianggap sebaagia fenomena yang biasa-biasa saja. Karena pada hakikatnya karya sastra tidak hanya bicara soal imajinasi tapi lebih luas dan lebih lebar dari itu. Lantas apa saja yang mempengaruhi akan mirisnya karya sastra dalam artian luas masyakat Indonesia?

Kurangnya perhatian dari pemerintah
Seperti yang diberitakan ANTARANEWS pada 10 Oktober 2019, seorang sastrawan, Eka Kurniawan menolak penghargaan Maestro Seni dan Tradisi. Alasannya, pemerintah dinilai kurang peduli pada kebudayaan. Eka yang merupakan penulis novel “Cantik Itu Luka” dan novel “Lelaki Harimau” itu menyatakan dalam media sosial hadiah yang didapat, yakni uang senilai 50 juta, masih jauh dari peraih mendali dalam kejuaraan olahraga dunia.

Dari kasus di atas, pemerintah harusnya memberikan perhatian lebih terhadap karya sastra. Namun, dalam konteks ini dapat kita lihat keadaan berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. Akibatnya, kurangnya regenerasi baik dari segi pembaca atau pun dari penulis itu sendiri.

Jika pemerintah memberikan perhatian khusus pada karya sastra, baik secara finansial atau lainnya, maka secara bertahap keberadaan karya sastra bukan suatu hal yang asing dan bahkan di pandang sebelah mata oleh masyarakat akademisi.

Kurangnya sorotan dari media
Dilansir dari website KOMPASANIA.COM, Sri Wintala Ahmad berpendapat bahwa dengan kuantitas majalah bahasa Jawa yang sangat minim serta perdebatan yang berskala, dan tidak adanya penerbit mayor bersedia menerbitkan karya sastra Jawa merupakan faktor penghambat berkembangnya sastra Jawa baik kuantitas dan kualitas karya maupun kuantitas kreator.

Dari pandangan ini bahwa media sebagai penyambung lidah dari masyarakat, yang memiliki fungsi sebagai penyampai informasi yang edukatif, sedikit yang mempublikasikan karya sastra. Publikasi karya sastra tak sebanding dengan eksplorasi lainnya, seperti berita seleberiti dan berita olahraga.

Contoh konkret lain yang dapat kita lihat pada media. Rubrik karya sastra sangat terbatas. Hal semacam ini juga bisa menjadi bagian dari faktor lemahnya karya sastra di kalangan akademisi atau bahkan di kalangan masyakat indonesia.

Kurangnya budaya literasi
Membaca dan menulis bukan suatu yang mudah untuk di lakukan karena keduanya membutuhkan fokus lebih untuk di lakukan. Namun dengan dua hal tersebut akan banyak memberikan manfaat kepada kita. Lantas bagaimana budaya literasi di Indonesia?.

Sidikit kita singgung tentang bagaimana sebenarnya literasi yag ada di Indonesia. Menurut CCSU (Central Connecticu State Univesity) pada bulan maret 2016 dalam DETIKNEWS disebutkan bahwa berdasarkan hasil survei, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botwana. Dari data di atas dapat kita lihat bagaimana sebernarnya kondisi literasi yang ada di Indonesia, kurangnya contoh atau memang masyakat kita yang bisa dikatakan tidak memiliki budaya yang baik tentang literasi.

Selaras dengan yang sempat disinggung di atas, budaya literasi bangsa kita memang lemah. Namun itu bukan suatu hambatan yang berarti jika kita mau merubahnya.

Dari hal itu dapat kita tarik benang merahnya bahwa keberadaan karya satra di negara +62 sangat riskan. Namun keberadaan karya sastra akan dipandang lagi jika dari tiga aspek yang tertera di atas saling mendukung satu dengan yang lainnya. Karena akan amat sangat lucu ketika salah satu diantara yang tiga tersebut saling mematikan satu dengan yang lainnya. Mari hidupkan karya sastra karena dengannya kita juga bisa membuat orang lain berimajinasi jauh ke luar angkasa.

*Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang


Baca Lainnya