Cerita Pedagang Pasar Pakong yang Kiosnya Berdampingan dengan Sawah – Jejak

logo

Cerita Pedagang Pasar Pakong yang Kiosnya Berdampingan dengan Sawah

Minggu, 22 Desember 2019 - 22:19 WIB

4 tahun yang lalu

Pasar Pakong, Kabupaten Pamekasan ini terlihat sepi dari pengunjung. Pedagang ini menempati kios sementara setelah terjadi kebakaran tahun 2015 (Foto/Fahrurrosyi)

JEJAK.CO – Musibah kabakaran Pasar Pakong Kabupaten Pamekasan beberapa tahun lalu masih menyisakan luka yang mendalam bagi pedagang. Ditambah lagi dengan munculnya polemik pasca pembangunan karena jumlah kios dengan jumlah pedagang yang menjadi korban kebakaran tidak sebanding.

Akibatnya, pedagang berjualan di tempat sementara yang disediakan pemerintah setempat. 

Ulfa, Warga Desa Klompang Barat Kecamatan Pakong merupakan seorang pedagang pakaian yang kiosnya ikut terbakar 2015 lalu. Ia harus menerima kenyataan pahit karena setiap harinya sepi pembeli.

Semua itu karena kios yang disediakan bagi korban kebakaran oleh pemerintah daerah tidak strategis. Apalagi yang ditempati Ulfa berada di paling ujung dan berdampingan dengan sawah. 

“Entahlah kami hanya bisa mengelus dada dengan keadaan ini, setiap harinya sepi, para pembeli enggan ke tempat kami ini, apa lagi mau beli,” ungkapnya dengan nada sedih, Minggu (22/12/2019).

Padahal kata Ulfa, sebelum kebakaran pendapatan dari berjualan pakaian di pasar tradisional itu tergolong baik. Berbeda dengan saat ini yang terkadang di hari-hari tertentu tak satupun dagangannya laku.

“Untuk penglaris saja kadang tidak ada, ekonomi kami terhimpit, kami pasarah saja solanya kami sudah bertanya berkali-kali kepada pihak pemerintah kapan kios baru itu bisa ditempati namun jawabannya berputar-putar tidak jelas,” imbuhnya.

Kios milik Ulfa yang berjualan di kios sementara Pasar Pakong berdampingan dengan sawah. Nyaris setiap hari sepi pembeli padahal sebelum kebakaran Ulfa mengaku baik-baik saja (Foto/Fahrurrosyi)


Sampai saat ini Ulfa dan beberpa pedagang mengaku pasrah ia sudah enggan untuk menanyakan lagi soal kios yang baru yang tak ditempati itu. Mereka hanya bisa berharap semoga pemerintah terketuk hatinya melihat nasib para pedagang yang dangangannya sulit terjual akibat tempat yang kurang strategis.

“Kami berharap segera pindah ke pasar lama, karena sebagian besar orang berkunjung ke pasar lama, di utara sana masih ada pedagang ikan dan pedagang-pedagang lain, tempat saya paling selatan, mau laku gimana? orang lewat saja jarang apa lagi beli,” tutupnya.

Sebelumnya, jumlah kios yang dibangun sebanyak 426 unit sedangkan pedangan yang beraktivitas di pasar tradisonal itu berkisar 600 orang. Semua pedagang itu juga menuntut mendapat bangunan baru

sehingga terjadi polemik. Sementara pemerintah hanya menyediakan bagi korban kebakaran.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan dan Pengembangan Pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Imam Hidajad mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan segala upaya untuk menyelesaikan polemik yang sudah bertahun-tahun itu. Termasuk telah berkoordinasi dengan Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Pakong.

“Kami sudah koordinasi dengan Forpimka, insya Allah secepatnya, mudah-mudahan dalam bulan ini bisa terselesaikan,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab dipanggil Imam itu mengakui bahwa polemik itu terjadi karena pedagang meminta menempati kios yang baru, sedangkam kios yang ada tidak bisa menampung semua pedagang yang ada. 

Kemudian, pihaknya mengaku sudah mensosialisasikan bahwa kios yang baru itu diperuntukkan bagi pedagang yang terdampak kebakaran pertengahan tahun 2015 lalu.

“Sementara pelan-pelan sosialisasi dan musyawarah dengan pedagang, bahwa kita prioritas pada data pedagang yang terdampak kebakaran, sisanya kita tempatkan di penampungan sementara,” tambahnya.

Penulis : Fahrurrosyi
Editor : Ahmad Ainol Horri


Baca Lainnya