JEJAK.CO, Sumenep – Berbagai langkah strategi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pelaku UMKM di Sumenep cukup banyak. Berdasarkan data Dinas Koperasi UKM dan Perindag Kabupaten Sumenep, pelaku UMKM di ujung timur Pulau Madura ini tercatat 7.400. Data tersebut diyakini akan terus berkembang.
Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perindag Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid mengatakan UMKM merupakan tulang punggung dari sistem ekonomi kerakyatan. Perannya cukup strategis dalam memberantas masalah kemiskinan, terutama di saat negara menghadapi resesi di tahun 2023.
Sebagai upaya menumbuhkan ekonomi kerakyatan, Pemkab Sumenep memiliki 10 langkah strategi kembangkan UMKM.
1. Pelatihan
Dinas Koperasi UKM dan Perindag Kabupaten Sumenep terus memberikan pelatihan bagi pelaku UMKM baru maupun yang sudah lama.
Pelatihan yang telah dilakukan di antaranya,
berupa strategi pemasaran, digitalisasi, pelatihan limbah kayu dan lainnya.
Pelatihan itu guna meningkatkan sumber daya manusia (SDM) para pelaku UMKM.
Sebab kendala para pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya adalah pengetahuan yang kurang memadai dan pola pikir lama (tradisional).
“Perlu ada perubahan mindset. Di era globalisasi dan digitalisasi mau tidak mau harus diimbangi peningkatan kapasitas, kemampuan pengelolaan usaha di tengah ketatnya persaingan,” kata Inong, sapaan akrabnya.
2. Bantuan
Untuk mengembangkan bisnis para pelaku UMKM, pemerintah juga menyediakan bantuan.
Inong menyebutnya, bantuan tersebut berupa peralatan, seperti alat pertukangan dan bantuan alat perbengkelan, serta bantuan alat lainnya yang menjadi kebutuhan pelaku UMKM.
3. Mall UMKM Sumenep
Untuk meningkatkan pemasaran produk UMKM, Pemkab Sumenep juga mendirikan Mall UMKM sebagai pusat oleh-oleh.
Selain tempat belanja, Mall UMKM ini juga berfungsi sebagai promosi produk usaha masyarakat Sumenep.
Kata Inong, semua produk UMKM Sumenep bisa dipajang di etalase pusat pemasaran produk oleh-oleh itu.
Mall UMKM Sumenep berlokasi di bekas Kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, sebelah timur Taman Bunga.
Jenis produk yang ditampilkan di Mall UMKM Sumenep antara lain, makanan dan minuman ringan, batik, kerajinan ukir, handycraft, keris dan jamu tradisional.
3. Pasar Minggu
Langkah lain yang dilakukan Pemkab Sumenep kembang UMKM adalah membuka lapak Pasar Minggu.
Pasar itu menggunakan tenda di sebelah timur Taman Bunga setiap hari Minggu pagi. Tercatat ada 200 pelaku UMKM yang berjualan di pasar tersebut.
Pasar Minggu ini sangat membantu para pelaku UMKM untuk menjual produknya, mulai dari makanan, minuman dan produk lainnya.
“Yang jualan di Pasar Minggu itu ada 200 pedagang dan yang antre sebanyak 55. Jadi semuanya ada 255 pelaku UMKM,” terang Inong.
5. Kerja sama dengan pasar modern
Selain dipasarkan di Mall UMKM, produk lokal pelaku usaha di Sumenep juga dipasarkan di pasar modern, seperti Indomart dan Alfamart.
Hasil karya para pelaku UMKM yang sudah diterima di pasar modern sebanyak 27 produk.
6. Merambah pasar online
Untuk merambah pasar di luar Sumenep, pemerintah daerah juga bekerja sama dengan COD. Langkah ini untuk meningkatkan pemasaran secara online.
Produk UMKM sudah bisa diupload di lapak COD secara gratis. Jadi siapa saja bisa mengakses fasilitas lapak pasar online tersebut.
“Jangkauan pemasaran produk UMKM tidak hanya di lokal sumenep tapi sudah sampai Malang, Bali, Jakarta,” terangnya.
7. Ikut Pameran
Salah satu produk UMKM di Sumenep adalah batik tulis. Batik-batik hasil karya warga Sumenep dipasarkan di pameran batik.
Langkah itu sebagai upaya pengenalan sekaligus pemasaran batik khas Sumenep.
8. Gerai produk UMKM di kantor dinas vertikal
Guna melebarkan sayap pemasaran produk UMKM, Dinas Koperasi UKM dan Perindag Kabupaten Sumenep juga bekerja sama dengan berbagai instansi vertikal. Salah satunya dengan PT. POS.
“Kami sudah koordinasi dengan POS atau instansi vertikal agar dibuat gerai produk UMKM yang bisa memajang produk seperti camilan dan minuman,” kata Inong.
9. Fasilitasi izin merek gratis.
Selain memiliki kemampuan dalam membuat produk dan manajemen pemasaran, para pelaku UMKM juga harus mengurus izin merek. Ini penting untuk bisa bersaing di pasar lokal maupun nasional.
Kata Inong, pelaku UMKM yang hendak mengurus legalitas atau izin akan difasilitasi secara gratis. Semua biasa mengakses secara online melalui SOS.
10. Pinjaman modal
Tak kalang pentingnya urusan modal. Bagi pelaku usaha, modal merupakan hal penting untuk bisa mengembangkan. Untuk itu, pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pihak perbankan untuk kebutuhan modal para pelaku UMKM.
“Kami fasilitasi dengan pihak perbankan dengan menggunakan program KUR.”
“Kami sudah sosialisasi ke paguyuban UMKM yang ada di Sumenep tentang beberapa perbankan yang menyediakan pinjaman tanpa jaminan dan bunga sangat rendah. Misal bank milik Pemkab Sumenep, BPRS Bhakti Sumekar menyediakan pinjaman tanpa agunan dan bunga dengan nominal maksimal Rp 5 juga. Semuanya sudah kami sampaikan kepada paguyuban agar menggunakan pinjaman modal itu untuk mengembangkan usahanya,” pungkas Inong. (rei)











