Vakum Selama 20 Tahun, Sintong Kembali Digandrungi – Jejak

logo

Vakum Selama 20 Tahun, Sintong Kembali Digandrungi

Kamis, 5 September 2019 - 16:17 WIB

5 tahun yang lalu

Agus Gepeng (nomor 2 dari kiri) tampak sedang menarikan gerak Sintong bersama penari yang lain. (Foto/Agus Gepeng)

Jejak.co-Setelah mengalami vakum selama 20 tahun, kesenian Sintong khas Sumenep, Madura, Jawa Timur ini mulai digandrungi kembali oleh khalayak publik.

Terbukti, dalam beberapa momen ritual kebudayaan di Sumenep, Sintong sering diminta untuk mengisi sejumlah acara, diantaranya maulid nabi, rokat desa, ritus pribadi maupun kelompok, rokat tase’ (petik laut, red.)

Tidak hanya di Sumenep, Sintong ini juga sempat tampil di Jakarta, di Metro TV. Kemudian di Surabaya. Terakhir, hadir meramaikan program RRI Sumenep, tanggal 1 September kemarin.

Menyambut Kedatangan Presiden RI

Awalnya, Sintong kembali diminati berangkat dari inisiatif dan permintaan mendiang Kiai Zamiel El-Muttaqien agar dijadikan penampilan pembuka untuk menyambut kedatangan Presiden RI, Joko Widodo pada momen Hari Perdamaian Internasional yang digelar di Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep pada tahun 2017 silam.

“Waktu itu ada kunjungan Jokowi ke Annuqayah, pas pada momen Hari Perdamaian Internasional 2017 itu. Nah, ketika itu Mbah Miming berinisiatif supaya Sintong hidup kembali. Beliaulah yang mencetuskan Sintong pertama kali. Ya, setelah 20 tahun sempat vakum,” ujar salah satu pelopor Sintong asal Kecer, Dasuk, Faiqul Khair Al-Kudusi saat ditemui wartawan Jejak.co.

Faiq, akrab disapa, menceritakan, bulan September itu persiapan kedatangan Jokowi. Kemudian saya bilang waktu itu, “Mbah, nggak mungkin itu, Mbah! Karena personelnya yang tersisa hanya 10 orang. Mau dapat darimana saya, orang sisa pelaku Sintong ini hanya tinggal 10 orang,” tukasnya.

Ra Miming, demikian lumrah dipanggil, lalu menanyakan kepada Faiq seberapa lama waktu yang dibutuhkam untuk mempersiapkan segala kebutuhannya. “Ada satu bulan,” jawab Faiq.

Dengan waktu yang agaknya tidak memungkinkan untuk tampil itu, Ra Miming lalu berusaha meyakinkan Faiq agar coba mengupayakannya terlebih dahulu dengan cara menemui tokoh-tokoh Sintong yang masih tersisa.

Mengamini permintaan Ra Miming, Faiq lalu menemui beberapa tokoh Sintong. “Ketemu dengan tokoh-tokoh Sintong, dan saya nanya, kira-kira sanggup nggak, Pak, ngumpulin pemuda-pemuda,” tanya Faiq.

Diajukan, jangka waktunya kurang lebih satu bulan, sekian tokoh yang ada menyatakan tidak sanggup. Faiq pun lalu mendatangkan para santri. “Baik, saya datangkan santri-santri. Santri tak latih. Udah bisa, dan mulailah orang-orang sana terlibat aktif,” cerita pemilik kafe Tabularasa itu.

Akhirnya waktu hari H itu, lanjut Faiq, santri dihilangkan, diganti pemain asli. Yang 10 itu orang asli, sisanya tambahan orang kampung sendiri. Anak mudanya lah yang mau gabung.

Berhasil. Sintong pun resmi menjadi hiburan pembuka menyambut kedatangan orang nomor satu di Indonesia ketika itu.

Personel Sintong tampil di RRI Sumenep, Minggu (1/9/2019). (Foto/Agus Gepeng)

Eksistensi Sintong

Tidak cukup sampai di situ. Rupanya penampilan Sintong menyedot perhatian masyarakat, termasuk juga Ra Miming, Presiden Jokowi, dan sekian tamu yang hadir saat itu.

Faiq menuturkan bahwa setelah selesai menyambut Jokowi, Kiai Miming meminta agat Sintong terus dilestarikan.

Untuk menjaga budaya ini, Faiq berinisiasi untuk membuat pertemuan seminggu sekali (kompolan). Mulanya, kompolan yang digagas beranggotakan 36 orang. Saat ini, sudah mencapai sekitar 160 orang.

Faiq membebrkan, tiap minggu mesti ada undangan untuk mentas. Biasanya untuk ruwatan, petik laut, orang mau nikah, tasyakuran, “kemarin dipakek orang sebelum mangkat haji, slametannya pakai Sintong,” katanya.

Faiq menyampaikan bahwa sekarang sudah ada regenerasi pengkaderan. “Yang sepuh-sepuh itu ada 5 orang, diantaranya Pak Zaini, Bapaknya Pak Zaini, suaranya khas sekali. Kemudian Kiai Khaliqul Fadil, masih muda, cucu keturunannya Kiai As’adi. Biasanya beliau hadir di beberapa kesempatan, membacakan doa penutup,” terangnya.

Tampak para penggiat Sintong berkumpul menyenandungkan madah Sintong di ruang auditorium RRI Sumenep, Minggu (1/9/2019). Foto/Agus Gepeng

Asal Mula Sintong

Pada mulanya, kesenian Sintong ini dibawa oleh Kiai As’adi (alm.) dari Aceh. Ia adalah salah seorang santri pejuang. “Setelah menjadi panglima pasukan perang di Aceh, sekitar abad 18, Kiai As’adi pulang ke kampung asalnya di Kecer, Dasuk, Sumenep. Ngopeni santrinya, salat dan bersintong. Hanya itu,” ungkap Faiq lebih lanjut.

Sementara menurut Agus Gepeng, Sintong adalah ungkapan kerinduan terhadap Allah dan Rasulnya. Beberapa alat musik yang digunakan dalam laku ritual ini antara lain, Jidor sama kendang dua buah, kemudian juga Tok-tok yang terbuat dari batok buah ta’al (siwalan, red).

Agus menduga menduga Sintong murni kesenian asal Sumenep yang pada saat alm. Kiai As’adi diutus sebagai panglima pasukan perang ke Aceh, di sana Sintong berakulturasi dengan penduduk setempat. Sepulang dari tugas, Sintong ini kemudian dibawa pulang dan dimasyhurkan kembali oleh Kiai As’adi bersama para santrinya.

“Karena di Aceh nggak ada jejak Sintong. Demikian juga bentuk Sintong (vokloe, vocabuler gerak, alat musik) sangat khas Sumenep (Madura),” terang Agus, Rabu (4/9/2019).

Jadi Objek Penilitian

Belum lama ini, Sintong sudah banyak dijadikan kajian dalam skripsi. Ada sekitar lima skripsi, diantaranya di kampus Unesa, Stikosa, dan INSTIKA Guluk-guluk, Sumenep, Madura.

Para peneliti dari beberapa kampus, menggali tentang madah bacaannya, bebunyiannya, dan juga ritme gerakannya. Kemudian ditemukan bahwa Sintong itu gerakan perlawanan, pengorganisasian orang. Sintung itu serupa puji-pujian yang diiringi dengan gerakan.

“Madahnya, bacaannya itu sebenarnya merupakan kutipan-kutipan, kumpulan dari madah-madah tertentu. Ada yang dicomot dari Burdah, ada yang dipetik dari Manakib Thariqah Manshuriyah. Ada yang dikutip dari Manakib Thariqah Rifa’iyah. Itu dijadikan satu menjadi madah-madah khas Sintong,” katanya.

Manuskrip-manuskrip tentang Sintong sampai saat ini masih ada. Sekarang sudah diperbaharui dan diperbanyak. “Ditulis ulang, nggak dijual. Kalau mau minta, ada kok,” ujar Faiq.

“Kesan saya, mereka para pelaku Sintong adalah orang aneh agak gila. Bayangkan, ketika akan tampil, terus mereka ditanya, “Pak, butuh dana berapa? Jawab mereka, “Lho, Salawat kok dibayar,” ungkapnya mengakhiri ceritanya.

Penulis : Mazdon
Editor   : Ahmad Ainol Horri


Baca Lainnya