Tinggal di Jantung Kota, Nenek Ini Hidup Sebatang Kara – Jejak

logo

Tinggal di Jantung Kota, Nenek Ini Hidup Sebatang Kara

Sabtu, 13 Juli 2019 - 16:18 WIB

5 tahun yang lalu

Kondisi Nenek Misna. Jumat (12/07/2019). Alamat: RT. 002, RW.001, Bangselok, Sumenep.

Jejak.co-Potret warga miskin yang tinggal di jantung kota Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur ini sangat memprihatinkan. Adalah Misna (75), warga Kelurahan Bangselok sejak lama tinggal seorang diri di gubuk kumuh berukuran sekitar 2×3 meter.

Kini kondisi tubuhnya tak sehat lagi. Bahkan Misna tak kuasa berjalan seorang diri, sehingga dirinya membutuhkan pertolongan tetangga dekat yang selama ini setia membantunya.

Terkadang, Misna terpaksa harus buang hajat seperti buang air besar (BAB) dan air kecil di tempat tidurnya. Sehingga saat Jejak.co mengunjungi gubuk wanita lanjut usia (lansia) ini menyengat bau tak sedap, terlihat tumpukan kain di sekelilingnya untuk sekadar dipergunakan membersihkan kotorannya sendiri.

Keadaan Nenek Misna saat dikunjungi oleh Komunitas Berbagi Jejak Sumenep, 2 Juli 2019.

Zaini, Ketua Komunitas Berbagi Jejak (KBJ) Sumenep juga menceritakan, pada saat paguyubannya mendatangi Misna awal Juli 2019 kemarin, mengaku sangat prihatin melihat nenek tua yang hidup seorang diri. Menurutnya, ia tak punya apa-apa. Jangankan harta, keluarga pun tak ada.

Awalnya, cerita Zaini, semasa mudanya, Misna ikut bapaknya tinggal di Kota Sumenep, kemudian hidup bersama ibu tirinya. Sekarang bapak dan ibu tirinya telah meninggal. Menurut tetangganya, Nenek Misna sempat berkeluarga, tapi berpisah dan tidak punya keturunan. Jadi, kini dia hidup sebatangkara.

Rumah yang ditempati sekarang hanya numpang sama tetangganya. Karena dari dulu tidak punya apa-apa. Sebelum dimakan usia dan sakit seperti sekarang, Misna menyambung hidup dengan cara menjadi sukarelawan berkeliling kampung setiap Kamis sore, membawa dupa (sonsonan) untuk nyonson setiap rumah tetangganya. 

Dari sana, Misna mendapat uang untuk sekadar makan. Itupun tidak menentu. Bagi tetangga yang merasa iba, Misna diberi uang sebesar Rp 1.000 sampai Rp 2.000. “Itulah yang menjadi penyambung hidup beliau sebelumnya,” cerita Lebbes (52th), satu-satunya tetangga yang peduli pada Misna.

Lebbes mengaku sudah lupa sejak kapan nenek Misna sakit. “Entahlah,” jawabnya, “Setiap hari dan malam, nenek Misna sering berteriak sakit dan minta tolong. Namun, karena tetangga sekitar sudah terbiasa mendengarkannya, mereka kadang hanya pergi keluar untuk menengok, tapi dibiarkan. Baru kalau dia jatuh, maka dinaikkanlah nenek Misna kembali ke ranjangnya. Setelah itu, ya sudah, dibiarkan saja kembali,” imbuhnya penuh iba. 

Untuk makan dan minum, Misna kini hanya menunggu kiriman dari tetangganya yang peduli. Jika kiriman itu berupa nasi, biasanya langsung diletakkan di samping ranjang Misna. “Dia bisa meraihnya sendiri,” ungkap Lebbes yang mencucikan pakaiannya setiap hari itu.

Zaini (Ketua KBJ Sumenep) dan dua temannya saat berkunjung ke gubuk Nenek Misna, 2 Juli 2019. (Foto: Dokumentasi KBJ Sumenep)

Menurut keterangan dari Zaini, belum ada bantuan dari pihak pemerintah setempat. Baru setelah diviralkan melalui media sosial (medsos), Zaini mendengar kabar dari salah satu anggota KBJ bahwa ada petugas dari Kelurahan Bangselok yang mengurus keadaan Misna. Selain itu, datang pula perwakilan dari Puskesmas Pandian Sumenep yang menengok serta memberikan obat-obatan.

“Alhamdulillah, sore kami berkunjung, keesokan harinya saya dengar ada petugas dari Kelurahan Bangselok dan Puskesmas Pandian yang datang untuk mengurus beliau,” ungkap Ketua KBJ Sumenep itu penuh syukur.

Komunitas Berbagi Jejak ini adalah komunitas yang bergerak di bidang sosial, berbagi rasa dan kebahagian kepada lansia, kaum dhuafa, fakir miskin, dan yatim piatu.

“Program kami di KBJ bukan hanya itu, kami membantu ala kadarnya, kami viralkan nenek Misna di medsos itu sebagai jejak kami, dan untuk diteruskan kepada orang atau komunitas lain yang kebetulan punya hati nurani serta visi dan misi yang sama dengan kami,” terang Zaini. (don/yon)


Baca Lainnya