JEJAK.CO, Sumenep – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terus memperkuat kebijakan ekonomi berbasis data sebagai upaya menjaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dijadikan landasan utama dalam menyusun strategi pembangunan sekaligus merumuskan langkah pengendalian inflasi secara lebih terarah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep Arif Firmanto mengatakan, setiap kebijakan pembangunan harus berangkat dari kondisi riil di lapangan. Karena itu, data statistik memiliki peran penting untuk memastikan program pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Data inflasi menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar dalam menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran,” kata Arif.
Menurut dia, pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai perangkat daerah serta pemangku kepentingan agar langkah pengendalian berjalan efektif, terutama terhadap komoditas yang berpengaruh besar terhadap kenaikan harga.
Arif menegaskan, kebijakan pembangunan juga harus mampu mengantisipasi dinamika ekonomi yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Dengan pendekatan berbasis data, pemerintah dapat menentukan prioritas program secara lebih akurat sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Data BPS mencatat inflasi tahunan Kabupaten Sumenep pada Mei 2026 mencapai 5,12 persen atau menjadi yang tertinggi di Jawa Timur. Angka tersebut berada di atas rata-rata inflasi Provinsi Jawa Timur yang sebesar 3,49 persen maupun inflasi nasional sebesar 3,08 persen.
Sementara itu, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,16 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,07 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk memperkuat langkah-langkah pengendalian inflasi secara berkelanjutan.
Berdasarkan data BPS, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 1,45 persen. Selain itu, kenaikan harga beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng juga ikut mendorong peningkatan inflasi di Kabupaten Sumenep.
Pemerintah Kabupaten Sumenep optimistis kebijakan yang disusun berdasarkan data statistik akan semakin responsif terhadap dinamika ekonomi. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (*/har)











