JEJAK.CO – Pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Sumenep masa khidmat 2022-20226 resmi dilantik di Pendopo Keraton Sumenep, Senin (12/3/2023).
Pelantikan PC ISNU Sumenep dihadiri langsung Ketua Umum Pengurus Pusat atau PP ISNU Dr. KH. Ali Masykur Musa.
“Pelantikan PC ISNU Sumenep masa khidmat 2022-2026 rencananya mau dilaksanakan pada 16 Maret. Tapi karena ketua umum siap hadir pada tanggal 13 Maret akhirnya digelar sekarang. Tak terduga bagi kami bisa dihadiri Ketua Umum PP ISNU,” kata Ketua PC ISNU Sumenep KH Husnan A. Nafi’ saat sambutan.
Rektor Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk itu mengatakan, sarjana di Sumenep menghadapi berbagai tantangan. Di bidang agama, Sumenep masuk zona merah. Gus Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) mengatakan bahwa Sumenep sempat menjadi episentrum terorisme.
Wilayah kepulauan menjadi salah satu daerah yang harus diwaspadai. Oleh karena itu, para sarjana yang tergabung di ISNU harus memberikan pencerahan kepada masyarakat dan mengkampanyekan Islam Aswaja Annahdliyah.
“Di bidang ekonomi, ketimpangan antara masyarakat miskin dan kaya sangat jauh, juga ekonomi daratan dan kepulauan” ungkapnya.
Sarjana hari ini juga dihadapkan dengan tantangan politik. 2024 sebagai tahun politik sudah di depan mata. Masyarakat akan terpolarisasi dengan perbedaan pandangan politik.
Kondisi ini juga perlu sikap dan peran sarjana untuk mengedukasi masyarakat agar cerdas dan dewasa dalam berpolitik.
“Tiga tantangan itu yang kita canangkan dan rumuskan dalam program PC ISNU Sumenep dalam kepengurusan masa khidmat 2022-2026,” ujar Kiai Husnan yang digadang-gadang sebagai Bacawabup Sumenep itu.
Pihaknya berharap kepada para tokoh dan kiai untuk memberikan masukan, terutama kontribusi ide dari dewan penasehat dan dewan ahli untuk program yang akan disusun oleh ISNU.
Dr. KH Ali Masykur Musa menegaskan bahwa ISNU merupakan perwujudan atau jelmaan dari Taswirul Afkar atau dikenal dengan Nahdlatul Fikri yang mempunyai arti kebangkitan pemikiran.
Dengan segala ornamen yang ada, ISNU harus melakukan transformasi kultur untuk menghadapi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“ISNU harus profesional dan menyiapkan generasi yang bisa beradaptasi dengan perkembangan di era digital ini,” pesannya.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) masa khidmat 1991-1994 itu juga mengingatkan tentang ancaman gerakan radikalisme yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Radikalisme, vandalisme yang merongrong NKRI merupakan gerakan ideologi. Gerakan itu tidak bisa hanya dilawan oleh TNI-Polri. Cara menaklukkannya juga harus dengan dengan ideologi.
“Oleh karena itu, TNI-Polri dan pemerintah harus bekerja sama dengan NU, termasuk ISNU untuk menaklukkan paham vandalisme dan radikalisme itu,” pungkasnya. (rei)











