JEJAK.CO – Suara riuh tepuk tangan memenuhi GOR A. Yani, Panglegur, Senin pagi, 1 Desember 2025. Di antara ribuan wajah yang berdesak-desakan menunggu nama mereka dipanggil, berdirilah Rini Antika, 36 tahun. Ibu dua anak itu memeluk erat map merah berisi SK yang telah ia nantikan selama hampir dua dekade: surat pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Sejak 2009, Rini mengabdi sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas Batu Putih, salah satu wilayah pelosok di utara Sumenep. Jalan berbatu, akses transportasi terbatas, hingga listrik yang kadang tak pasti, menjadi bagian dari kesehariannya melayani warga desa. “Sudah seperti rumah kedua,” katanya pelan.
Selama 17 tahun bekerja sebagai nakes honorer, status “non-ASN” baginya bukan sekadar label, tetapi ketidakpastian yang terus menempel. Ia tetap bertahan: berangkat sebelum matahari naik, pulang ketika malam sudah tua. Gajinya tak seberapa, tapi rasa tanggung jawabnya jauh lebih besar.
Hari itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyerahkan SK pengangkatan PPPK paruh waktu kepada 5.224 tenaga honorer. Rini menjadi salah satunya. Baginya, momen itu seperti pintu panjang yang akhirnya terbuka.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati. Beliau telah menandatangani satu keputusan besar untuk masa depan ribuan honorer yang kami tunggu bertahun-tahun,” ucapnya, menahan suara yang bergetar.
Namun di balik kebahagiaan itu, tersimpan rentetan cerita perjuangan. Rini bercerita bahwa proses menuju pengangkatan PPPK paruh waktu dipenuhi dinamika. Ia dan teman-temannya bolak-balik rapat, menyusun data, menyiapkan berkas, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Kepala Bappeda sekaligus Plt. Kepala BKPSDM Sumenep, Arif Firmanto saat memberikan karangan bunga kepada salah satu PPPK paruh waktu (Foto/istimewa)
Di tengah perjalanan itu, ada satu sosok yang disebut Rini sebagai “energi penyemangat”: Arif Firmanto, Plt. Kepala BKPSDM Sumenep yang juga menjabat sebagai Kepala Bappeda.
“Selain kepada Bapak Bupati, kami juga sangat berterima kasih kepada Bapak Arif Firmanto yang selama ini setia mendampingi perjuangan kami. Tanpa arahan dan bimbingannya, kami mungkin tidak bisa seperti sekarang,” ujarnya.
Rini mengingat betul malam-malam panjang ketika Arif mendampingi mereka berdiskusi hingga lewat pukul 12 malam. “Padahal beliau sangat sibuk. Tapi tetap meluangkan waktu untuk kami. Tulus sekali,” katanya.
Baginya, keputusan Bupati menugaskan Arif mengawal proses PPPK paruh waktu adalah langkah yang sangat tepat. “Terima kasih Bapak Bupati telah bijaksana mengirim Bapak Arif di setiap jengkal proses ini,” ucapnya.
Menyaksikan ribuan honorer mengangkat SK mereka hari itu, mata Rini berkaca-kaca. Perjalanan panjangnya seolah diputar kembali: hari-hari menembus hujan menuju puskesmas, malam-malam menenangkan anaknya yang menanyakan mengapa ibunya pulang terlambat, hingga keraguan yang kadang menyelinap—apakah semua ini akan terbayar?
Kini, setelah 17 tahun, ia merasa jawabannya akhirnya datang.
“Ini bukan akhir perjuangan,” katanya sambil tersenyum. “Ini awal dari perjalanan baru, yang lebih pasti untuk kami dan keluarga.”
Di Pelosok Batu Putih, besok pagi Rini akan kembali bekerja seperti biasa. Namun langkahnya kali ini terasa lebih ringan. Ada status baru yang ia bawa pulang—dan lebih dari itu, ada martabat yang selama ini ia jaga dengan penuh kesabaran (har/dan)











