Belajar kepada Alam, Orang Madura Bisa Prediksi Perubahan Musim dan Cuaca – Jejak

logo

Belajar kepada Alam, Orang Madura Bisa Prediksi Perubahan Musim dan Cuaca

Jumat, 6 Desember 2019 - 13:52 WIB

4 tahun yang lalu

Gambar ilustrasi (ust)

JEJAK.CO-Generasi milenial di Madura harus tahu tentang tanda-tanda perubahan alam sebagaimana yang telah dilakukan para leluhurnya. Sebelum teknologi belum banyak dikenal masyarakat luas, masyarakat Madura sudah bisa memahami prakiraan cuaca dan perubahan musim.

Sejatinya para leluhur Madura telah mengajarkan bagaimana membaca perubahan musim dan cuaca. Hal itu mereka lakukan dengan cara memperhatikan dan mencatat gejala-gejala yang biasa atau berulang kali terjadi dalam hari dan bulan menurut perhitungan kalender Hijriyah.

“Dalam hal ini, manusia Madura pandai menggunakan alam lingkungan sebagai sumber pengetahuan yang membentuk karakter daerahnya, yakni alam dan manusia,” kata A Sulaiman Sadik dalam bukunya ‘Memahami Jatidiri, Budaya, dan Kearifan Lokal Madura’, (Pamekasan, 2/5/2011).

Dalam buku itu Sadik menerangkan bahwa pada tahun 1855, Susuhunan Solo kembali menghidupkan ‘tarikh Jawa’ yang pasa gilirannya lalu diikuti oleh Bangsa Madura dan Bali. Di Madura ilmu perhitungan musim itu dikenal dengan istilah ‘tètè masa’ yang berarti ‘teliti masa’, atau bisa juga dibahasakan dengan ‘jembatan keadaan’.

Artinya, manusia Madura punya ‘tatengnger’ atau penanda tentang gejala cuaca alam semesta yang dapat dijadikan bahan bacaan dalam mengarungi kehidupannya. Tètè masa atau ‘teliti masa’ itu ada 12 hitungan yang tidak sama dengan model perhitungan Masehi; tidak dimulai dari Januari, melainkan dari Bulan Juli hingga Juli di tahun berikutnya.

Yang pertama adalah ‘Kasa’, asal dari kata ‘esa’ yang bermakna ‘ke satu’, dalam Bahasa Madura disebut ‘sè dà’-adâ’ atau sè kapèng sèttong’. “Kasa ini setara dengan penanggalan Masehi antara Bulan Juli hingga Agustus,” jelas A Sulaiman Sadik, (hlm: 70).

Kedua, ‘Karo’ yang berasal dari Bahasa Jawa Kara, berarti ‘ka loro’ (kedua), dan dalam Bahasa Madura dikatakan sè kapèng duwâ’. Yaitu, antara Bulan Agustus hingga September.

Dalam dua hitungan itu tidak disebutkan apa petanda atau gejala alam yang biasa terjadi. Baru di hitungan yang ketiga, yakni ‘Katèghâ’ (antara September-Oktober) dijelaskan bahwa di antara bulan itu biasanya musim kemarau telah sampai pada puncaknya. Artinya, keadaan setiap hari ketika ini terasa sangat panas, tidak baik berada di bawah matahari langsung.

Selanjutnya, ‘Kapat’ yaitu musim yang keempat antara Bulan Oktober hingga November. Situasi alam saat ini, terang Sulaiman, mulai ada pertanda akan musim hujan. Biasanya hujan mulai turun di daerah pegunungan bagian tengah dan utara Madura, disertai hujan dan petir.

“Situasi seperti itu oleh masyarakat dataran rendah Madura bagian selatan (biasa, red) dikatakan (dengan istilah) ‘deng-rendeng dâjâ’ yang sebentar lagi, di daerah selatan pun, akan turun hujan,” paparnya.

Musim penghujan terjadi di hitungan ‘Kalèma’ atau kelima, yaitu antara Bulan November dan Desember. Selanjutnya adalah ‘Kanem’ dan ‘Kapètto’, yaitu musim antara Desember-Januari dan Januari-Februari.

Pada musim yang ke 8 disebut ‘Kabâllu’ atau ‘kabâllutong’, karena pada saat ini biasanya terjadi angin kencang sehingga banyak ‘rebbhung’ (bambu muda) yang ‘potong’ alias patah. Musim angin kencang ini terjadi antara Bulan Februari hingga Maret.

“Kasanga, atau kesembilan, saat ini sering dikatakan ‘kasangapèt’, biasanya tapis atau kulit bambu sudah terlepas dari batangnya,” ujar Sulaiman (hlm. 71).

Ada juga yang mengatakan ‘kasangalèng’. Sebab di saat kasanga ini adalah musim dimana sekawanan anjing (patè’, dalam Bahasa Madura) sedang melaksanakan perkawinan secara sembunyi-sembunyi (lèng-ngalèng). Kasanga adalah musim antara Maret hingga April.

Kemudian yang kesepuluh yaitu ‘kasapolo’ antara Bulan April hingga Mei, dan ‘Dhâsta’ atau kesebelas antara Bulan Mei sampai Juni. Sedangkan yang ke-12 adalah ‘Sadhâ’ antara Juni-Juli. Tidak ada penjelasan mengenai pertanda masa dalam 3 musim  tersebut.

Terakhir, A Sulaiman Sadik mengutarakan bahwa, hampir semua yang terlihat oleh leluhur Madura, khususnya di alam luar perkotaan, (gejala atau keadaan alam, red) tersebut dapat dijadikan perumpamaan untuk membentuk karakter masyarakatnya.

“Matahari, bulan, bintang, gunung, angin, guntur, termasuk air bah atau banjir semuanya dimanfaatkan, dan pada umumnya berbentuk peribahasa. Contoh, arèna para’ compeddhâ (matahari hampir tenggelam),” tukas Sulaiman mencontohkan.

Peribahasa tersebut memiliki arti ‘usia seseorang yang sudah sangat tua, atau pemegang kekuasaan yang sudah hampir berakhir. 

Bersambung…

Penulis : Mazdon
Editor   : Haryono


Baca Lainnya