Nada, Anak Pengusaha yang Tertarik Belajar di WMS – Jejak

logo

Nada, Anak Pengusaha yang Tertarik Belajar di WMS

Kamis, 17 Oktober 2019 - 16:50 WIB

5 tahun yang lalu

Nafisah Afra Nada saat menjaga stand WMS di Sumenep Heritage Culinary Festival 2019 di sebelah timur Taman Bunga atau TB (Foto/Mazdon)

JEJAK.CO– Peserta Wirausaha Muda Sumenep (WMS) besutan Enterpreneurship Training and Development Centre (ETDC) yang satu ini memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi pengusaha. Adalah Nafisah Afra Nada, mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Kabupaten Sumenep.

Menariknya, meski lahir dari keluarga yang serba berkecukupan ia tidak pernah mengeluh berproses di WMS. Sebaliknya, sejak pertama kali bergabung di program unggulan Bupati-Wakil Bupati Sumenep A Busyro Karim dan Achmad Fauzi pada Juli 2019, ia mengaku senang bisa bergabung di WMS.

Apalagi selama belajar produksi dan memasarkan hasil olahannya, Nada tidak pernah mengalami kerugian sepeser pun bersama kelompok wirausaha muda Sumenep lainnya.

“Setiap harinya, pesanan hasil olahan kami dari 300 sampai 700 kotak kue pesanan,” ungkap mahasiswi semester 3 itu kepada Jejak.co, Kamis (17/10/2019).

Hasil jualan dari produk WMS dibagi bersama anggota kelompoknya. “Karena modalnya kan dari WMS, setelah laris, modal kita kembalikan, untungnya milik kita,” imbuhnya.

Nada merupakan salah satu kader WMS yang bergerak dibidang olahan. Produk yang diciptakan bersama teman-temannya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu olahan mokav, aneka kue basah, dan catering.

“Olahan mokav itu seperti yang dipamerankan di festival kuliner kemarin, kalau kue itu bagian snack, dan catering itu bagian makanannya,” sebut wanita kelahiran Sumenep, 25 Mei 2.000 itu.

Selama 25 hari masa pelatihan, mengungkapkan dirinya tidak hanya diajarkan teori, akan tetapi langsung praktek memasak dan teknik berjualan. “Kita selama pelatihan, sudah memproduksi pesanan. Setiap harinya 700 pesanan,” tegasnya.

Foto bersama di sentra produksi Wirausaha Muda Sumenep (Foto/Mazdon)


Yang menangani bagian pemesanan adalah menitoring dari pihak Enterpreneurship Training and Development Centre atau ETDC. Pesanan konsumen bermacam-macam. Mayoritas pesanan kue kotak yang berisi kue lapis, pastel, dan air mineral.

Harganya pun beragam, tergantung permintaan konsumen. “Ada yang minta Rp2 ribu, ada yang Rp3 ribu. Nah, kalau kue lapis biasanya Rp3 ribu sama air gelasan, pastel, dan kotaknya. Itu semua sepaket kita kasi harga Rp6 ribu,” jelasnya.

Saat ini, dia beserta teman-teman WMS lainnya sudah disediakan tempat khusus oleh pihak Pemkab Sumenep, tepatnya berlokasi di eks Gedung Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep yang lama.

“Kita kan sudah disiapkan kayak kafe gitu, semacam warkop. Nah, itu olahan semua yang mengelola. Lengkap, halaman depan dan belakang sudah dibikinin, jadi itu nanti kayak kafe gitu,” katanya.

Di sana dia mengaku riang bekerja bersama teman-temannya. Setiap hari, wirausaha muda produksi olahan, termasuk juga dipasarkan secara online. “Paling efektif itu malam, tapi kita bukanya dari pagi,” tuturnya.

“Sistemnya shif-shifan. Mungkin kalau Nada sendiri, datang pas malam atau sore atau siang. Karena kuliah sekarang, jadi izin. Nanti pas dishif-kan ke siapa, gitu,” imbuhnya.

Meski sibuk dengan kuliah, ia mampu membagi waktu untuk berproses menjadi wirausaha muda. Meskipun diakuinya tidak jarang kegiatan kuliah dan tanggungjawabnya di WMS terjadi bentrokan.

“Kalau misalnya capek pasti capek, Pak. Tapi namanya, kata Bu Irul juga tanggungjawab, ya, meskipun harus ada yang direlakan, ya harus dijalani,” katanya.

Nada, lalu menceritakan alasan mengapa dirinya tertarik menekuni dunia usaha bidang kuliner. Selain keinginannya yang kuat, ternyata dorongan dari keluarganya terutama ayahandanya Fauzi sangat kuat.

Ayah Nada sendiri adalah seorang pengusaha sekaligus berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di bidang pendidikan tepatnya seorang guru di salah satu lembaga pendidikan di Sumenep.

“Papa saya sekarang emang guru PNS, tapi papa saya itu mengajarkan saya agar jangan terpaku bahwa hanya dengan PNS kita bisa hidup. Karena kalau kita hanya bergantung pada uang negara terus, kita akan stagnan, mandek, kurang inovatif,” tuturnya.

Berangkat dari itu, bahkan sebelum bergabung di WMS, Nada mengaku sudah suka bisnis online. Beberapa diantaranya yaitu, jualan abon ikan tongkol dan piscok.

Dari hasil berjualan dua produk mandirinya itu, dengan hanya promosi di status WhatsApp, Nada mengaku memperoleh omset 2 sampai 3 juta perbulan. “Yah, dari situ Nada kaget sekaligus senang. Lho, kok untungnya banyak kayak gitu ya,” ujar kakak dari Davindra Nur Oktavansyah itu.

Namun demikian, Nada juga mengaku pernah mengalami rugi. Tetapi wanita berparas cantik ini tidak kaget akan hal itu karena sedari awal, ayahnya selalu berpesan bahwa bisnis itu pasti akan terjadi ungtung rugi

“Kasusnya beragam, kadang yang pesan itu nggak bayar. Kalau makanan nggak, belum ada ruginya. Makanya saya tertarik belajar di WMS bagian olahan, karena Nada ingin lebih banyak ilmu dari WMS,” akunya.

Tahu molotot dan tahu walik adalah salah satu olahan unggulan WMS yang paling Nada sukai. Sedangkan untuk jenis kue basah, ia mengutarakan paling suka sama brownies mocaf.

“Nah, sekarang brownies mocaf itu adalah unggulannya dari WMS. Sama ubi crispy itu, ya. Makanya lebih banyak suka di situ, anak-anak,” terang anak Hervinsye Febtiana Dewi ini.

Nada berharap peserta WMS ke depan tetap kompak, “Maksudnya, kita kan belajar di WMS. Jadi kita jangan mikirin banyak untung dulu, mungkin. Tapi utamakan kompak, kalau dah kompak, kita masak apa aja enak, hasilnya juga enak, pasti juga ujung-ujungnya yang kita dapatlan juga enak,” pungkasnya.

Penulis : Mazdon
Editor : Ahmad Ainol Horri


Baca Lainnya