Celurit Kebudayaan – Jejak

logo

Celurit Kebudayaan

Sabtu, 8 Desember 2018 - 05:51 WIB

6 tahun yang lalu

istimewa

Penulis: A. Dardiri Zubairi
Jejak.co-Celurit. Mendengar kata ini pikiran kita langsung tergiring sama “carok”. Carok dan celurit dua hal tak terpisah. Carok adalah aktivitasnya, celurit adalah medianya.

Sebagai sebuah senjata celurit adalah benda khas Madura. Berbentuk sebuah tanda tanya, celurit ini seakan memaksa orang Madura untuk mempertanyakan keberadaannya ketika diperlakukan orang secara semena-mena alias tidak adil yang merampas rasa “malo-nya”.

Carok berangsur-angsur hilang. Jarang sekali belakangan ini kita mendengar carok. Sementara clurit sebagai sebuah senjata tetap ada. Ia tidak habis. Malah diproduksi makin banyak. Suatu saat senjata ini akan jadi artefak budaya. Di simpan di museum. Dipajang di tembok rumah. Atau jadi kebanggaan perantauan Madura sekedar mau menunjukkan identitas keberanian orang Madura pada suku lain, seperti yang dilakukan perantauan Madura di Jakarta, misalnya. Tepatnya clurit untuk nakut-nakuti orang lain.

Pertanyaannya kemudian, ketika Madura menjadi surga bagi pemodal dimana sumberdaya alam serta tanah dikuasai, dan ruang hidup orang Madura dirampas, adakah clurit –termasuk carok– menemukan relevansinya? Tak cukupkah fakta telanjang saat ini yang suatu saat akan meminggirkan orang Madura, terutama “oreng kene'” memancing “rasa malo” orang Madura? Dimana harga diri itu?

Saya tidak menyuruh kita “acarok” sambil menggunakan clurit kepada pemodal. Yang saya maksud orang Madura perlu menafsir ulang “carok” dan “clurit” tidak pada bendanya, tapi filosofi dan substansinya. Kosmologi dan kearifan lokal Madura perlu dire(de)kontruksi untuk menghadapi serbuan penjajahan baru sekaligus musuh baru yaitu sistem neoliberalisme yang makin mengakar di Madura. Sistem ini menjalar ke institusi negara, perguruan tinggi, sekolah, ormas, NGO, media dan seterusnya dengan wajah ramah, ditopang oleh modal dan ilmu pengetahuan serta riset-riset terkini. Semua tak berkutik. Pikiran kita pun dibekuknya. Apa yang kita saksikan diterima secara wajar dan baik-baik saja.

Itulah perlunya re(de)konstruksi kebudayaan Madura. Satu rumusan, racikan, atau siasat kebudayaan yang greng, radikal, dan lebih segar rolex swiss replica watches menghadapi gempuran neoliberalisme atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian orang Madura menjadikan kebudayaan sebagai arena kontestasi. Mungkin tak menang, tapi terhormat. Mungkin kalah, tapi tak kehilangan akal sehat.

Hasil re(de)konstruksi kebudayaan itu di samping menjadi guiden orang Madura menatap masa depannya, juga menjadi “clurit kebudayaan” yang siap diduelkan ketika ada kebudayaan lain yang pongah, sok, dan mau menjajah serta menghegemoni seperti neooibelisme itu. “Clurit kebudayaan” semacam paradigma kritis untuk menguliti segenap dehumanisasi dan ketidakdilan, terutama terhadap “oreng kene”, “reng disa” yang kebanyakan buruh tani, nelayan kecil, pedagang kecil dan kelompok yang saat terus dipinggirkan.

Dalam makna itulah saya memaksudkan “clurit kebudayaan”.


Baca Lainnya